Lama tdk posting neh, lg banyak kerjaan soalnya.
Piye kabareee???????????
February 28, 2008 at 3:08 am (Rumah Kita)
Lama tdk posting neh, lg banyak kerjaan soalnya.
Piye kabareee???????????
December 11, 2007 at 2:18 am (Heaven, Rumah Kita)
malam itu sekitar jam 11 malam mata saya sepet banget dan bela2in pulang dengan naik sang “Legend” dengan kecepatan ( mungkin) 60km/jam, ceritanya baru datang dari sebuah “pengajian”. Dingin memang, dan membuat semakin ingin segera pulang ke rumah untuk berlindung di balik selimut… tapi sebelumnya saya bela2in untuk membawa sebuah kalender tahun 2008, coz tahun 2007 akan segera berlalu.
sebelum berangkat saya pun sibuk memikirkan di mana meletakkan gulungan kalender berukuran sekitar 50cm x 40cm itu, tanpa berpikir panjang dan setelah celingak-celinguk ternyata tidak kunjung menemukan tali dan sejenisnya, akhirnya saya putuskan untuk meletakkannya di saku bagian dalam jaket hitam saya, yang saya kurang sadar tapi sedikit ingat bahwa di sana juga ada handphone baru cdma merk ZTE.
motor saya mulai melaju dan menyalip sebuah truk yang sempat mengganggu penglihatan, dan beberapa saat kemudian kalender di saku saya miring akibat terpaan angin malam yang tidak ingin saya cepat sampai rumah. Dan… “pluk…!”
saya seperti mendengar ada suara benda jatuh tepat di samping saya dan tersadar dari mimpi saya saya pun kaget, “HPkuuuuuuuuuuuuu!” saya hanya dapat menjerit setengah panik dalam hati saja. cepat saya menepi tidak kurang dari dua menit motor kesayangan pun sudah parkir di sisi jalan A. Yani Km.4,6.
Betapa melototnya mata saya ketika melihat tidak di tengah jalan raya yang mulai sepi teryata terbaring dengan suksesnya sebuah handset merk ZTE! namun terlambat, belum beberapa detik mata saya melotot dan kantuk saya hilang, tiba-tiba……….
“Wuuuuuuuuuuusssshhhhhhhhhh…..!” bagaikan ilmu kungfu tendangan tanpa bayangan sebuah mobil hitam Kijang innova melejit di depan saya, dan “prakkkkkk….!!!!!!”
saya pun menarik nafas panjang dan bergumam dalam hati, “innalillaah…” HP baru saya penyok di gilas di kijang yang dalam hitungan detik telah menghilang bayangannya dari pandangan mata.
“Hhhhhh…..” saya segera bergegas ke tengah jalan yang sudah sepi dan memungut serpihan ZTE yang remuk redam digilas ban mobil.
setelah itu yang ada hanyalah andai saja saya…. jika saja waktu itu…. tapi syukurnya saya segera sadar bahwa ini adalah bagian dari hidup di dunia. sok diplomatis? terserah, saya hanya mencoba menyadarkan ego saya.
December 11, 2007 at 1:29 am (Rumah Kita)
besoknya dia juga memberi kejutan dengan menyambut hangat sang kakek yang bertandang ke rumah
tapi tadi malam, tepatnya jam 11 malam, saya mendapat hal yang mengesalkan, handphone saya yang baru beli dan baru dipake sekitar 3 hari dilindas oleh mobil Kijang Innova hitam saat handset itu jatuh dari saku saya…
aaaaaaaaaarrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
December 5, 2007 at 2:37 pm (Heaven)
December 5, 2007 at 2:25 pm (my articles)
Nilai adalah hal yang kerap menghampiri kehidupan seluruh manusia, baik yang dapat terbaca oleh kasat mata atau pun tidak. Tidak bisa dilihat, misalnya, adalah perilaku seseorang seperti berbuat baik, ikhlas, keindahan, keburukan dan lain sebagainya yang hanya dapat dirasakan oleh nurani orang yang melihatnya namun akan sangat susah jika diungkapkan dalam bentuk kata ataupun tulisan. Sementara nilai yang dapat dilihat, misalnya, angka nilai sekolah murid SD hingga SMA. Juga nilai berupa huruf di rapor anak TK dan transkrip nilai mahasiswa.
Saya bicarakan di sini adalah nilai dalam bentuk kongkret, yaitu dalam bentuk tulisan yang dapat dikatakan hampir seluruh orang terutama di Indonesia, masih terpaku kepadanya. Kenapa saya merasa ini penting untuk disampaikan? Karena, hal ini menyangkut masa depan pendidikan kita sendiri dan generasi penerus di masa mendatang.
Salah satu contoh nyata ketergantungan terhadap nilai adalah pada matapelajaran agama. Seperti diketahui, agama adalah pondasi awal agar anak atau siswa dapat memiliki filter dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dalam agama dipelajari berbagai perilaku baik dan buruk. Harus menjadi pilihan tentu saja perilaku baik, sehingga masa depan anak lebih cerah.
Tetapi, mengutip Ratna Megawangi PhD, pendiri Indonesia Haritage Foundation, terjadi dewasa ini adalah ilmu agama yang diajarkan bukannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan hanya dihapal guna keperluan ujian akhir untuk menentukan kelulusan mereka di akhir jenjang pendidikan. Akibatnya, ilmu agama yang mereka pelajari hanya bertahan sesaat dan hilang ketika ujian berakhir. Sementara akhlak anak, dijamin akan buruk dan inilah awal kegagalan mereka.
Mungkinkah Berubah
Sejauhmana ketergantungan orang terhadap nilai di atas kertas, dapat dilihat ketika pembagian rapor di sekolah terutama SD. Ketika pembagian rapor selesai, orangtua siswa yang angka raport anaknya tidak ada yang merah, maka dapat dipastikan ia bangga dan sibuk menanyakan orangtua siswa yang lain
Hingga perguruan tinggi pun hal seperti ini masih terjadi. Misalnya usai ujian semester, mahasiswa berjejal di depan papan pengumuman untuk melihat hasil ujian. Mahasiswa yang nilainya bagus, pasti bangga. Sementara yang nilai mata kuliahnya C bahkan D, dipastikan merasa dirinya sangat buruk.
Pendidikan di negeri kita jauh tertinggal dari Jepang. Di negeri Samurai itu, tidak ada yang tinggal kelas walaupun nilai si anak di bawah rata-rata. Mereka terus saja dididik hingga lulus SMA. Ketika lulus SMA, mereka disediakan berbagai jurusan di perguruan tinggi sehingga tinggal memilih yang pas dengan keahliannya selama ini. Maka, mental untuk maju terus ada bukannya ditekan, karena mereka yakin nilai di atas kertas bukan ukuran sukses tidaknya seseorang di masa mendatang.
Untuk menuju hal ini peran terpenting adalah keluarga yaitu orangtua. Orangtua harus ingat, nilai jelek di sekolah atau perguruan tinggi tidak menunjukkan cerdas tidak seseorang atau berhasil tidaknya si anak di masa mendatang. Yang diperlukan adalah melihat potensi anak dan mengembangkannya semaksimal mungkin.
Sekali lagi saya ingatkan, nilai di atas kertas memang perlu tetapi bukan kemutlakan untuk mengukur kemampuan seseorang. Jika kita ketergantungan terhadap nilai, akan berujung pada kecanduan: nikmat sesaat dan menghancurkan masa depan. Maukah Anda demikian? Harus kita ingat adalah tujuan awal pendidikan.
Tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter yang mulia, bukan hanya bersandar pada ranah kognitifa. Beberapa penelitian yang dilakukan pakar di Amerika menyebutkan, orang yang sering sukses di berbagai bidang adalah mereka yang memiliki perilaku baik dan benar yang tidak hanya mengandalkan nilai di atas kertas.
December 5, 2007 at 2:14 pm (Heaven)
beberapa hari ini tepatnya tiga hari tempat tinggal saya seolah bukan lagi seperti surga, walaupun motto hidup rumah kita adalah “rumahku surgaku” yaitu mengupayakan terwujudnya sebuah surga yang cukup dengan hadir di rumah kita.
penyebabnya adalah terganggunya saluran air bersih hingga saa saya mengetik tulisan ini dilengkapi dengan masih terjadinya pemadaman bergilir oleh perusahaan listrik milik negara yang tak kunjung usai dan selalu terjadi setiap tahun. itu yang terdjadwal, pemadaman yang tidak terjadwal sudah tidak terhitung lagi.
setelah dua di antara sekian banyak kebutuhan pokok di dunia, yaitu listrik dan air yang selalu bermasalah, dilengkapi dengan terganggunya jaringan telpon rumah jika aliran listrik padam, penyebabnya adalah mesin entah atau apa namanya yang menghubungkan jaringan telekomunikasi ke rumah kita sangat adictive dengan listrik sehingga turut senewen jika listrik mati…
hhhhh… sungguh rumah kita dalam kondisi seperti itu bukan lagi seperti surga…
tapi ternyata setelah saya merenung dalam, ternyata surga tidak ada di rumah kita.. surga ternyata ada pada perasaan, tepatnya hari yang berbolak-balik bagaikan sebuah koin yang memiliki dua sisi. yang menciptakan rumah kita seperti surga atau malah neraka adalah mindset kita sendiri, keluh kesah atau malah kegembiraan
dan ternyata salah satu kunci menemukan surga adalah satu, mensyukuri apa yang telah ada dan kita terima, itulah ternyata salah satu kunci dari pintu surga!
November 30, 2007 at 1:05 am (Rumah Kita)
pernahkah Anda bekerja selama 20 tahun dan hanya dihargai sebesar Rp.200.000? kalau tidak pernah Anda patut bersyukur, apalagi jika mendapatkan penghargaan lebih dari sekedar itu. apalah artinya dua ratus ribu untuk era global saat ini, uang sebesar itu mungkin habis dalam hitungan detik dan bahkan tidak cukup untuk mengidupi satu orang dalam satu minggu atau malah satu hari!
tapi itu benar-benar terjadi di dunia nyata saat ini. dan itu terjadi bukan pada perusahaan milik pribadi, melainkan di dunia pemerintahan!
pemerintah kita memang luar biasa hebat, untuk satu pegawainya yang dikenal dengan PNS dan telah mengabdi selama 20 tahun hanya dihargai tidak lebih mahal dari sebuah DVD Player (karena saya baru saja beli, hehehe…). anehnya lagi penghargaan yang didapat si pegawai bukan karena penilaian dari atasan atau presiden selaku penanggungjawab mereka, akan tetapi penghargaan 200.000 plus sertifikat itu harus didapat dengan “mengemis” atau istilah birokratnya prosedur untuk mendapatkan penghargaan.
mereka bukan hanya capek dengan pekerjaannya selama bertahun-tahun, melainkan juga harus direpotkan dengan berbagai tagihan, baik dari utang maupun anaknya sendiri, malah harus direpotkan melengkapi berbagai kelengkapan berkas dan menyampaikannya ke instansi tertentu agar diberikan insentif di depan ribuan mata dalam sebuah upacara terbuka.
hhhhhhh…. saya kadang capek memikirkan negara ini. kepala daerah, pemimpin dan bahkan banyak orang sudah tidak tahu malu dalam memberikan penghargaan, jauh dari ajaran agama yang cukup mengatakan sebuah kaliman, dihadiahi oleh Allah sebuah istana di sura kelak.
saya tidak dapat berbuat apa-apa, hanya memohon pada Yang Kuasa untuk memberikan si 20 tahun = 200.000 ribuan atau jutaan istana di surga. amin…
November 28, 2007 at 4:17 am (Rumah Kita)
Ketika tengah asyik ngetik di depan laptop “dinas” saya, tiba-tiba ruangan yang diisi empat meja plus satu meja meeting kedatangan tamu. Setelah “dilacak” ternyata si tamu ingin berbincang dengan kepala sekolah SMP yang kebetulan posisinya persis di sebelah kanan saya. Merasa tidak enak dengan posisi saya yang khawatir akan dianggap “nguping”, maka saya memutuskan untuk sedikit menjauh ke ruang sebelah yang ada jalan pintasnya ke sana.
perbincangan antara tamu dan kepala sekolah pun akhirnya berlangsung sekitar satu jam. Kemudian saya kembali ke meja saya melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti sebenar.
“Siapa, pa?” tanya saya
“Orang mau daftarkan anaknya ke sekolah kita”
saya pun larut dalam perbincangan seputar tamu yang ingin menyekolahkan alias memindahkan anaknya di sekolah kami. ada satu komentar si tamu tentang sekolah anaknya saat ini. “saya ingin memindahkan anak saya dari sekolahnya yang dulu karena di sekolah itu saya tidak mendapat kejelasan dari sekolah, mau dijadikan apa anak saya kelak”
Intinya si tamu yang ternyata orangtua seorang anak itu meminta sebuah jaminan dari sekolah tentang profil sosok siswa yang akan mengecap pendidikan di suatu sekolah atau lembaga pendidikan apa pun. Ternyata bukan hanya barang atau produk yang memerlukan jaminan kualitas, ternyata pendidikan yang barangnya tidak kelihatan juga memerlukan jaminan kualitas, dan memang seharusnya demikian!
Syukurnya sekolah kami (bukan bermaksud sombong atau promosi) sudah memiliki jaminan kualitas untuk lulusan yang bersekolah di sekolah kami. Untuk TK ada 7 jaminan kualitas, SD 12 jaminan kualitas dan SMP 15 jaminan kualitas.
Ingin tau selengkapnya? silakan hubungi saya
November 28, 2007 at 3:58 am (Rumah Kita)
hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan paling susah adalah ketika melihat alangkahkah indahnya milik tetangga, orang lain, atau siapapun yang ada di luar kehidupan kita. bahkan kadang termasuk anak dan istri kita sendiri bisa menjadi “penghalang” perjalan kita.
aneh memang…. tapi begitulah kenyataan. jawaban yang bisa membuat perjalanan kita langgeng hanyalah syukur dan menerima apa adanya kita, bukan mempermasalahkan apa yang diterima orang lain. jika kita berhasil melakukan dan melewati perjalanan dengan rasa syuku itu, maka yakinlah dunia ini tidak akan berarti buat Anda. akan tetapi akan ada “dunia” baru yang lebih kekal yang kita masih belum tahu kapan akan menemuinya…
November 23, 2007 at 8:10 am (Rumah Kita)
Seorang nabi akhir zaman Muhammad SAW pernah bersabda bahwa “rumahku adalah surgaku” yang kemudian diadopsi oleh orang barat menjadi home sweet home melalui Freddy Mercury (kalau tidak salah). Sebuah sabda yang singkat namun bersifat universal. Mengapa, karena surga sebenarnya ada dalam diri kita. Begitu pula neraka, ada dalam sanubari kita. Sekarang kita diminta untuk memilih, apakah menanam benih neraka di hati kita, atau malah menyemai surga.
Rumah Kita bukanlah nama biasa. Ini adalah sebuah dunia yang mengajak agar kita bersama-sama menuju surga-Nya melalui jalan yang benar-benar diridhoi-Nya. Karena surga bukan milik saya, Anda, dia dan mereka. Akan tetapi surga adalah milik kita…..