Cermin Pendidikan Kita

Nilai adalah hal yang kerap menghampiri kehidupan seluruh manusia, baik yang dapat terbaca oleh kasat mata atau pun tidak. Tidak bisa dilihat, misalnya, adalah perilaku seseorang seperti berbuat baik, ikhlas, keindahan, keburukan dan lain sebagainya yang hanya dapat dirasakan oleh nurani orang yang melihatnya namun akan sangat susah jika diungkapkan dalam bentuk kata ataupun tulisan. Sementara nilai yang dapat dilihat, misalnya, angka nilai sekolah murid SD hingga SMA. Juga nilai berupa huruf di rapor anak TK dan transkrip nilai mahasiswa.

Saya bicarakan di sini adalah nilai dalam bentuk kongkret, yaitu dalam bentuk tulisan yang dapat dikatakan hampir seluruh orang terutama di Indonesia, masih terpaku kepadanya. Kenapa saya merasa ini penting untuk disampaikan? Karena, hal ini menyangkut masa depan pendidikan kita sendiri dan generasi penerus di masa mendatang.

Salah satu contoh nyata ketergantungan terhadap nilai adalah pada matapelajaran agama. Seperti diketahui, agama adalah pondasi awal agar anak atau siswa dapat memiliki filter dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dalam agama dipelajari berbagai perilaku baik dan buruk. Harus menjadi pilihan tentu saja perilaku baik, sehingga masa depan anak lebih cerah.

Tetapi, mengutip Ratna Megawangi PhD, pendiri Indonesia Haritage Foundation, terjadi dewasa ini adalah ilmu agama yang diajarkan bukannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan hanya dihapal guna keperluan ujian akhir untuk menentukan kelulusan mereka di akhir jenjang pendidikan. Akibatnya, ilmu agama yang mereka pelajari hanya bertahan sesaat dan hilang ketika ujian berakhir. Sementara akhlak anak, dijamin akan buruk dan inilah awal kegagalan mereka.

Mungkinkah Berubah

Sejauhmana ketergantungan orang terhadap nilai di atas kertas, dapat dilihat ketika pembagian rapor di sekolah terutama SD. Ketika pembagian rapor selesai, orangtua siswa yang angka raport anaknya tidak ada yang merah, maka dapat dipastikan ia bangga dan sibuk menanyakan orangtua siswa yang lain

Hingga perguruan tinggi pun hal seperti ini masih terjadi. Misalnya usai ujian semester, mahasiswa berjejal di depan papan pengumuman untuk melihat hasil ujian. Mahasiswa yang nilainya bagus, pasti bangga. Sementara yang nilai mata kuliahnya C bahkan D, dipastikan merasa dirinya sangat buruk.

Pendidikan di negeri kita jauh tertinggal dari Jepang. Di negeri Samurai itu, tidak ada yang tinggal kelas walaupun nilai si anak di bawah rata-rata. Mereka terus saja dididik hingga lulus SMA. Ketika lulus SMA, mereka disediakan berbagai jurusan di perguruan tinggi sehingga tinggal memilih yang pas dengan keahliannya selama ini. Maka, mental untuk maju terus ada bukannya ditekan, karena mereka yakin nilai di atas kertas bukan ukuran sukses tidaknya seseorang di masa mendatang.

Untuk menuju hal ini peran terpenting adalah keluarga yaitu orangtua. Orangtua harus ingat, nilai jelek di sekolah atau perguruan tinggi tidak menunjukkan cerdas tidak seseorang atau berhasil tidaknya si anak di masa mendatang. Yang diperlukan adalah melihat potensi anak dan mengembangkannya semaksimal mungkin.

Sekali lagi saya ingatkan, nilai di atas kertas memang perlu tetapi bukan kemutlakan untuk mengukur kemampuan seseorang. Jika kita ketergantungan terhadap nilai, akan berujung pada kecanduan: nikmat sesaat dan menghancurkan masa depan. Maukah Anda demikian? Harus kita ingat adalah tujuan awal pendidikan.

Tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter yang mulia, bukan hanya bersandar pada ranah kognitifa. Beberapa penelitian yang dilakukan pakar di Amerika menyebutkan, orang yang sering sukses di berbagai bidang adalah mereka yang memiliki perilaku baik dan benar yang tidak hanya mengandalkan nilai di atas kertas.