aneh…tapi… part tu

malam itu sekitar jam 11 malam mata saya sepet banget dan bela2in pulang dengan naik sang “Legend” dengan kecepatan ( mungkin) 60km/jam, ceritanya baru datang dari sebuah “pengajian”. Dingin memang, dan membuat semakin ingin segera pulang ke rumah untuk berlindung di balik selimut… tapi sebelumnya saya bela2in untuk membawa sebuah kalender tahun 2008, coz tahun 2007  akan segera berlalu.

sebelum berangkat saya pun sibuk memikirkan di mana meletakkan gulungan kalender berukuran sekitar 50cm x 40cm itu, tanpa berpikir panjang dan setelah celingak-celinguk ternyata tidak kunjung menemukan tali dan sejenisnya, akhirnya saya putuskan untuk meletakkannya di saku bagian dalam jaket hitam saya, yang saya kurang sadar tapi sedikit ingat bahwa di sana juga ada handphone baru cdma merk ZTE.

motor saya mulai melaju dan menyalip sebuah truk yang sempat mengganggu penglihatan, dan beberapa saat kemudian kalender di saku saya miring akibat terpaan angin malam yang tidak ingin saya cepat sampai rumah. Dan… “pluk…!”

saya seperti mendengar ada suara benda jatuh tepat di samping saya dan tersadar dari mimpi saya saya pun kaget, “HPkuuuuuuuuuuuuu!” saya hanya dapat menjerit setengah panik dalam hati saja. cepat saya menepi tidak kurang dari dua menit motor kesayangan pun sudah parkir di sisi jalan A. Yani Km.4,6.

Betapa melototnya mata saya ketika melihat tidak di tengah jalan raya yang mulai sepi teryata terbaring dengan suksesnya sebuah handset merk ZTE! namun terlambat, belum beberapa detik mata saya melotot dan kantuk saya hilang, tiba-tiba……….

“Wuuuuuuuuuuusssshhhhhhhhhh…..!” bagaikan ilmu kungfu tendangan tanpa bayangan sebuah mobil hitam Kijang innova melejit di depan saya, dan “prakkkkkk….!!!!!!”

saya pun menarik nafas panjang dan bergumam dalam hati, “innalillaah…” HP baru saya penyok di gilas di kijang yang dalam hitungan detik telah menghilang bayangannya dari pandangan mata.

“Hhhhhh…..” saya segera bergegas ke tengah jalan yang sudah sepi dan memungut serpihan ZTE yang remuk redam digilas ban mobil.

setelah itu yang ada hanyalah andai saja saya…. jika saja waktu itu…. tapi syukurnya saya segera sadar bahwa ini adalah bagian dari hidup di dunia. sok diplomatis? terserah, saya hanya mencoba menyadarkan ego saya.

aneh…tapi…

hidup memang aneh.. tapi nyata adanya

kemarin, anak saya baru saja memberikan sebuah kebahagiaan dengan telah bisanya dia mengangkat telpon sendiri, padahal usianya baru 20 bulan

besoknya dia juga memberi kejutan dengan menyambut hangat sang kakek yang bertandang ke rumah

tapi tadi malam, tepatnya jam 11 malam, saya mendapat hal yang mengesalkan, handphone saya yang baru beli dan baru dipake sekitar 3 hari dilindas oleh mobil Kijang Innova hitam saat handset itu jatuh dari saku saya…

aaaaaaaaaarrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

tatap matanya

jika Anda telah berkeluarga
maka beruntunglah Anda
karena telah menemukan surga di sana
serius, surga ada di sana!
coba lihat dan tatap dalam mata istri ketika dia sedang bahagia
di situlah salah satu surga…
implementasi dari surga yang sebenarnya
walaupun…..
kita tak tahu apakah akan menjadi salah satu penghuninya
- one night at my wife’s office -  :)

Cermin Pendidikan Kita

Nilai adalah hal yang kerap menghampiri kehidupan seluruh manusia, baik yang dapat terbaca oleh kasat mata atau pun tidak. Tidak bisa dilihat, misalnya, adalah perilaku seseorang seperti berbuat baik, ikhlas, keindahan, keburukan dan lain sebagainya yang hanya dapat dirasakan oleh nurani orang yang melihatnya namun akan sangat susah jika diungkapkan dalam bentuk kata ataupun tulisan. Sementara nilai yang dapat dilihat, misalnya, angka nilai sekolah murid SD hingga SMA. Juga nilai berupa huruf di rapor anak TK dan transkrip nilai mahasiswa.

Saya bicarakan di sini adalah nilai dalam bentuk kongkret, yaitu dalam bentuk tulisan yang dapat dikatakan hampir seluruh orang terutama di Indonesia, masih terpaku kepadanya. Kenapa saya merasa ini penting untuk disampaikan? Karena, hal ini menyangkut masa depan pendidikan kita sendiri dan generasi penerus di masa mendatang.

Salah satu contoh nyata ketergantungan terhadap nilai adalah pada matapelajaran agama. Seperti diketahui, agama adalah pondasi awal agar anak atau siswa dapat memiliki filter dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dalam agama dipelajari berbagai perilaku baik dan buruk. Harus menjadi pilihan tentu saja perilaku baik, sehingga masa depan anak lebih cerah.

Tetapi, mengutip Ratna Megawangi PhD, pendiri Indonesia Haritage Foundation, terjadi dewasa ini adalah ilmu agama yang diajarkan bukannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan hanya dihapal guna keperluan ujian akhir untuk menentukan kelulusan mereka di akhir jenjang pendidikan. Akibatnya, ilmu agama yang mereka pelajari hanya bertahan sesaat dan hilang ketika ujian berakhir. Sementara akhlak anak, dijamin akan buruk dan inilah awal kegagalan mereka.

Mungkinkah Berubah

Sejauhmana ketergantungan orang terhadap nilai di atas kertas, dapat dilihat ketika pembagian rapor di sekolah terutama SD. Ketika pembagian rapor selesai, orangtua siswa yang angka raport anaknya tidak ada yang merah, maka dapat dipastikan ia bangga dan sibuk menanyakan orangtua siswa yang lain

Hingga perguruan tinggi pun hal seperti ini masih terjadi. Misalnya usai ujian semester, mahasiswa berjejal di depan papan pengumuman untuk melihat hasil ujian. Mahasiswa yang nilainya bagus, pasti bangga. Sementara yang nilai mata kuliahnya C bahkan D, dipastikan merasa dirinya sangat buruk.

Pendidikan di negeri kita jauh tertinggal dari Jepang. Di negeri Samurai itu, tidak ada yang tinggal kelas walaupun nilai si anak di bawah rata-rata. Mereka terus saja dididik hingga lulus SMA. Ketika lulus SMA, mereka disediakan berbagai jurusan di perguruan tinggi sehingga tinggal memilih yang pas dengan keahliannya selama ini. Maka, mental untuk maju terus ada bukannya ditekan, karena mereka yakin nilai di atas kertas bukan ukuran sukses tidaknya seseorang di masa mendatang.

Untuk menuju hal ini peran terpenting adalah keluarga yaitu orangtua. Orangtua harus ingat, nilai jelek di sekolah atau perguruan tinggi tidak menunjukkan cerdas tidak seseorang atau berhasil tidaknya si anak di masa mendatang. Yang diperlukan adalah melihat potensi anak dan mengembangkannya semaksimal mungkin.

Sekali lagi saya ingatkan, nilai di atas kertas memang perlu tetapi bukan kemutlakan untuk mengukur kemampuan seseorang. Jika kita ketergantungan terhadap nilai, akan berujung pada kecanduan: nikmat sesaat dan menghancurkan masa depan. Maukah Anda demikian? Harus kita ingat adalah tujuan awal pendidikan.

Tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter yang mulia, bukan hanya bersandar pada ranah kognitifa. Beberapa penelitian yang dilakukan pakar di Amerika menyebutkan, orang yang sering sukses di berbagai bidang adalah mereka yang memiliki perilaku baik dan benar yang tidak hanya mengandalkan nilai di atas kertas.

merindukan surga?

beberapa hari ini tepatnya tiga hari tempat tinggal saya seolah bukan lagi seperti surga, walaupun motto hidup rumah kita adalah “rumahku surgaku” yaitu mengupayakan terwujudnya sebuah surga yang cukup dengan hadir di rumah kita.

penyebabnya adalah terganggunya saluran air bersih hingga saa saya mengetik tulisan ini dilengkapi dengan masih terjadinya pemadaman bergilir oleh perusahaan listrik milik negara yang tak kunjung usai dan selalu terjadi setiap tahun. itu yang terdjadwal, pemadaman yang tidak terjadwal sudah tidak terhitung lagi.

setelah dua di antara sekian banyak kebutuhan pokok di dunia, yaitu listrik dan air yang selalu bermasalah, dilengkapi dengan terganggunya jaringan telpon rumah jika aliran listrik padam, penyebabnya adalah mesin entah atau apa namanya yang menghubungkan jaringan telekomunikasi ke rumah kita sangat adictive dengan  listrik sehingga turut senewen jika listrik mati…

hhhhh… sungguh rumah kita dalam kondisi seperti itu bukan lagi seperti surga…

tapi ternyata setelah saya merenung dalam, ternyata surga tidak ada di rumah kita.. surga ternyata ada pada perasaan, tepatnya hari yang berbolak-balik bagaikan sebuah koin yang memiliki dua sisi. yang menciptakan rumah kita seperti surga atau malah neraka adalah mindset kita sendiri, keluh kesah atau malah kegembiraan

dan ternyata salah satu kunci menemukan surga adalah satu, mensyukuri apa yang telah ada dan kita terima, itulah ternyata salah satu kunci dari pintu surga!