November 30, 2007 at 1:05 am (Rumah Kita)
pernahkah Anda bekerja selama 20 tahun dan hanya dihargai sebesar Rp.200.000? kalau tidak pernah Anda patut bersyukur, apalagi jika mendapatkan penghargaan lebih dari sekedar itu. apalah artinya dua ratus ribu untuk era global saat ini, uang sebesar itu mungkin habis dalam hitungan detik dan bahkan tidak cukup untuk mengidupi satu orang dalam satu minggu atau malah satu hari!
tapi itu benar-benar terjadi di dunia nyata saat ini. dan itu terjadi bukan pada perusahaan milik pribadi, melainkan di dunia pemerintahan!
pemerintah kita memang luar biasa hebat, untuk satu pegawainya yang dikenal dengan PNS dan telah mengabdi selama 20 tahun hanya dihargai tidak lebih mahal dari sebuah DVD Player (karena saya baru saja beli, hehehe…). anehnya lagi penghargaan yang didapat si pegawai bukan karena penilaian dari atasan atau presiden selaku penanggungjawab mereka, akan tetapi penghargaan 200.000 plus sertifikat itu harus didapat dengan “mengemis” atau istilah birokratnya prosedur untuk mendapatkan penghargaan.
mereka bukan hanya capek dengan pekerjaannya selama bertahun-tahun, melainkan juga harus direpotkan dengan berbagai tagihan, baik dari utang maupun anaknya sendiri, malah harus direpotkan melengkapi berbagai kelengkapan berkas dan menyampaikannya ke instansi tertentu agar diberikan insentif di depan ribuan mata dalam sebuah upacara terbuka.
hhhhhhh…. saya kadang capek memikirkan negara ini. kepala daerah, pemimpin dan bahkan banyak orang sudah tidak tahu malu dalam memberikan penghargaan, jauh dari ajaran agama yang cukup mengatakan sebuah kaliman, dihadiahi oleh Allah sebuah istana di sura kelak.
saya tidak dapat berbuat apa-apa, hanya memohon pada Yang Kuasa untuk memberikan si 20 tahun = 200.000 ribuan atau jutaan istana di surga. amin…
Leave a Comment
November 28, 2007 at 4:17 am (Rumah Kita)
Ketika tengah asyik ngetik di depan laptop “dinas” saya, tiba-tiba ruangan yang diisi empat meja plus satu meja meeting kedatangan tamu. Setelah “dilacak” ternyata si tamu ingin berbincang dengan kepala sekolah SMP yang kebetulan posisinya persis di sebelah kanan saya. Merasa tidak enak dengan posisi saya yang khawatir akan dianggap “nguping”, maka saya memutuskan untuk sedikit menjauh ke ruang sebelah yang ada jalan pintasnya ke sana.
perbincangan antara tamu dan kepala sekolah pun akhirnya berlangsung sekitar satu jam. Kemudian saya kembali ke meja saya melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti sebenar.
“Siapa, pa?” tanya saya
“Orang mau daftarkan anaknya ke sekolah kita”
saya pun larut dalam perbincangan seputar tamu yang ingin menyekolahkan alias memindahkan anaknya di sekolah kami. ada satu komentar si tamu tentang sekolah anaknya saat ini. “saya ingin memindahkan anak saya dari sekolahnya yang dulu karena di sekolah itu saya tidak mendapat kejelasan dari sekolah, mau dijadikan apa anak saya kelak”
Intinya si tamu yang ternyata orangtua seorang anak itu meminta sebuah jaminan dari sekolah tentang profil sosok siswa yang akan mengecap pendidikan di suatu sekolah atau lembaga pendidikan apa pun. Ternyata bukan hanya barang atau produk yang memerlukan jaminan kualitas, ternyata pendidikan yang barangnya tidak kelihatan juga memerlukan jaminan kualitas, dan memang seharusnya demikian!
Syukurnya sekolah kami (bukan bermaksud sombong atau promosi) sudah memiliki jaminan kualitas untuk lulusan yang bersekolah di sekolah kami. Untuk TK ada 7 jaminan kualitas, SD 12 jaminan kualitas dan SMP 15 jaminan kualitas.
Ingin tau selengkapnya? silakan hubungi saya
4 Comments
November 28, 2007 at 3:58 am (Rumah Kita)
hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan paling susah adalah ketika melihat alangkahkah indahnya milik tetangga, orang lain, atau siapapun yang ada di luar kehidupan kita. bahkan kadang termasuk anak dan istri kita sendiri bisa menjadi “penghalang” perjalan kita.
aneh memang…. tapi begitulah kenyataan. jawaban yang bisa membuat perjalanan kita langgeng hanyalah syukur dan menerima apa adanya kita, bukan mempermasalahkan apa yang diterima orang lain. jika kita berhasil melakukan dan melewati perjalanan dengan rasa syuku itu, maka yakinlah dunia ini tidak akan berarti buat Anda. akan tetapi akan ada “dunia” baru yang lebih kekal yang kita masih belum tahu kapan akan menemuinya…
Leave a Comment
November 23, 2007 at 8:10 am (Rumah Kita)
Seorang nabi akhir zaman Muhammad SAW pernah bersabda bahwa “rumahku adalah surgaku” yang kemudian diadopsi oleh orang barat menjadi home sweet home melalui Freddy Mercury (kalau tidak salah). Sebuah sabda yang singkat namun bersifat universal. Mengapa, karena surga sebenarnya ada dalam diri kita. Begitu pula neraka, ada dalam sanubari kita. Sekarang kita diminta untuk memilih, apakah menanam benih neraka di hati kita, atau malah menyemai surga.
Rumah Kita bukanlah nama biasa. Ini adalah sebuah dunia yang mengajak agar kita bersama-sama menuju surga-Nya melalui jalan yang benar-benar diridhoi-Nya. Karena surga bukan milik saya, Anda, dia dan mereka. Akan tetapi surga adalah milik kita…..
Leave a Comment